Senin, 07 Januari 2013

Urban Planner, We Need You!

Lihat!

Kotaku kebanjiran dimana-mana.
Parah

Padahal kotaku begitu indahnya. Dulu dipinggir jalan banyak kolam-kolam teratai yang luas. Empang. Dan Sedikit hamparan sawah. Hari beranjak, kolam-kolam itu ditimbun. Empang dan sawah entah pindah kemana. Sekarang yang terlihat dipinggir jalan adalah deretan Ruko yang seluruh bagian depan halamannya pun ditutup rapat dengan paving block.

Kemarin, semuanya sibuk mengeluhkan air yang tiba-tiba melimpah, merendam semua yang berada dibawah ketinggian timbunan. Siapa yang salah?

Pembangunan memang niscaya. Ruko itu perlu. Menimbun juga perlu. Tapi, sebelum semua terlambat dan benar-benar tak selamat, adakah lebih baik dari sekarang mulai dipikirkan jalan untuk menyelamatkan kota kita? Jangan mengeluhkan air. Mulailah bersahabat dengan air. Karena kita juga butuh air.

Bilang saya sok tau. Tapi inilah yang saya pikirkan.

Perlu segera menganalisi: Luas area wilayah banjir. Sumber aliran air. Arah aliran air. Sejarah lokasi tampungan air.

Lalu: Rancangan jalur kanal aliran air. Rancang lokasi tampungan air. Rancang sterilisasi lokasi aliran air dan tampungan air. Rancang aturan ketat pembangunan yang tidak boleh membangun didaerah steril itu, Penghijauan, dan aturan pembangunan yang sinergis dengan drainase kota.

Terapkan segera

Jaga

Together #saveourcity

Senin, 31 Desember 2012

Blabbering Akhir Tahun

Dihari terakhir tahun 2012, saya memilih untuk menulis. Beberapa rencana malam tahun baru tidak terlaksana, dan beberapa ajakan sudah saya tolak. Kali ini bukan kilas balik atau resolusi. Saya hanya ingin menuliskan tentang uneg-uneg saya pada seluruh rakyat Indonesia raya. Mungkin tidak runut pun tidak ilmiah. Tapi siapa yang peduli. Anggap saja ini adalah semacam brainstorming yang harus dimuntahkan agar bisa kelak, mungkin, akan terlaksana.

Tentang gunungan sampah yang saya lewati setiap hari dalam perjalanan ke kampus. Semua sampah bercampur baur. Organic, plastik, kaleng, kertas, kain, karet. Entah bagaimana cara mendaurulangnya jika sudah seperti itu. Sementara di negara maju Jepang sana, tempat sampah sudah dibagi menjadi sembilan bagian. Setiap individu masyarakat bekerjasama, memberikan kepeduliannya dan kontribusinya dengan memilah sampah sesuai dengan petunjuk yang diberikan pemerintah. Indonesia bagaimana? Membuang sampah saja masih sembarangan. Kenapa? Jangan salahkan masyarakatnya. Memberikan kontribusi menjaga kebersihan adalah juga bagian dari cinta tanah air. Orang Indonesia kurang nasionalisme apa lagi? Kami rela mati demi bangsa ini. Lantas kenapa? Pernahkah aturan membuang sampah seperti ini diajarkan kepada kami dengan serius? Belum pernah. Ajarakanlah, dengan nasionalisme, masalah sampah akan terpecahkan. Penemuan dari Lipi tentang alat daur ulang sampah juga sudah banyak, tinggal dikembangkan dan di berikan pengelolaannya pada tiap-tiap unit terkecil masyarakat.

Tentang transportasi yang mulai tersendat setiap kali saya dalam perjalanan pulang pergi ke kampus. Hanya diperlukan keberanaian dan ketegasan untuk memperbaikinya. Perencanaan yang baik, dan libatkanlah masyarakat. Jika serius, ajaklah kami rakyat Indonesia untuk berkorban, kami mau. Berkorban saat ini untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Seperti pengorbanan yang telah dilakukan rakyak Indonesia pada awal kemerdekaan. Mungkin sedikit sumbangan untuk pembangunan MRT, kesabaran menghadapi riuhnya konstruksi. Dan mengeluarkan uang lebih banyak untuk bahan bakar sebagai konsekuensi dari kemampuan untuk memiliki kendaraan pribadi. Tegaslah, dengan ketegasan yang masuk akal.

Tentang taman, pedestrian, fasilitas umum kota yang lebih nyaman dan Indah. Jika para anggota dewan yang mengambil kebijakan itu ingin keluar negeri, biarkan saja, bahkan suruhlah. Dengan catatan mereka membuat laporan lengkap apa yang telah mereka pelajari disana, dan suruh mereka membuat paper apa yang dapat mereka lakukan untuk Indonesia setelah melihat apa yang telah mereka lihat diluar sana. Tempat yang indah tentu sangat mempengaruhi attitude orang-orang yang ada didalamnya maupun yang melewatinya. Jangan sampai memperkecil pedestrian, jalur hijau untuk memperluas jalanan. Ajarkan juga pentingnya taman hijau dihalaman rumah orang-orang Indonesia, agar semuanya sehat. Orangnya, dan bumi yang dipijaknya.

Tentang sinetron yang membunuh karakter bangsa. Hentikan itu. Ubah semua konsep sinetron yang ada saat ini. Itu bukan budaya kita. Pun bukan budaya yang memberikan didikan baik bagi rakyat Indonesia. Saya beritahukan kenyataannya. Film itu, apapun itu adalah cara untuk mentransfer budaya dan pemikiran. Dicontoh, dan tanpa sadar merasuk dalam karakter. Sadar atau tidak, rakyat Indonesia yang lemah lembut, ramah, menjadi sangat pemarah, brutal dan mudah sekali menyakiti. Itu karena apa yang dilihatnya setiap hari. Padahal, Indonesia bagian mana yang kelakuannya seperti itu?? Berikan konsep secara serius. Jadikan program pemerintah. Seperti pemerintah korea selatan yang menginterfensi sampai pada tema film yang akan dibuat dan ditayangkan di Negara mereka untuk mendidik rakyatnya.

Tentang kami rakyat Indonesia. Yang selalu di remehkan bahkan oleh orang-orang yang mengambil bagian jadi pemimpinya. Dianggap tidak cukup pintar untuk diajak berubah untuk menjadi lebih baik. Orang Indonesia itu pintar-pintar dan cerdas. Beritahukanlah secara dewasa dan elegan penuh penghormatan. Maka kami pun rakyat Indonesia akan dapat menerimanya dengan dewasa, dan tentu saja kami rakyat Indonesia akan memberikan penghormatan yang sama bagi siapa yang memperlakukan kami dengan hormat. Kami akan menganggap penting, jika disampaikan dengan penting. Dan kami akan bisa melakukan apapun, jika semua percaya kami bisa.

Ah, Indonesia

Tumpah darah

Ini saya, yang merindukan tanah ini menjadi lebih indah seperti seharusnya ia.

Selasa, 23 Oktober 2012

Hati-hati plagiasi!

Sebelum mulai saya minta maaf dulu, buat semuanya, karena penyelesaian tesis tertunda lagi. Tesisnya tertunda, pun blognya tidak terurus. Lengkaplah kesalahan saya. Mohon dimaafkan..

Baiklah, kali ini saya merasa perlu untuk menuliskan isu ini, karena berhubungan dengan kegiatan penulisan tesis yang sedang saya jalani dan kegiatan menulis kita para blogger sekalian.

Isu ini dimulai dengan berita yang cukup menggemparkan pada saat teman-teman yang telah sidang tiga sedang bersiap-siap untuk mengurus kelulusannya. Beritanya datang dari salah seorang dosen kami, beliau mengatakan kalau salah seorang kakak kelas kami terancam dicabut status kelulusannya karena tindakan plagiasi. Hal ini diketahui saat salah satu tugasnya ditemukan terbit di media online (mungkin blog seperti ini) dan diketahui bahwa salah satu sumber tulisannya tidak tercantum dalam tulisan itu. Mungkin salah satu kalimat dari tulisan itu adalah tulisan plagiat. Padahal tugas itu hanya sebuah tugas kecil saja.

Sebenarnya peringatan tentang hati-hati plagiasi sudah sejak entah kapan tau. Didalam banyak mata perkuliahan juga para dosen sering memberi arahan mengenai cara mengambil sumber dan kutipan. Tapi memang tata cara ini agak terlupakan dan sulit diterapkan jika kurang latihan menulis dan mempelajari tulisan orang lain. Termasuk saya. Waktu mendengar berita menggemparkan itu, saya langsung kuatir juga, beberapa tugas saya sangat amburadul ngolor ngidul. Itu karena ketidakpahaman dan mungin kurang seriusnya saya memperhatikan mata kuliah.

Untungnya ada Wawa, dia menjelaskan kembali sedikit tentang tata cara mengambil kutipan. Tulisannya diposting di group fb yang membuat saya sedikit paham, dan makin kuatir dengan tugas-tugas saya terdahulu.

Biar lebih mudah diingat dan dipahami, saya akan menuliskannya dalam penomoran:
  1. Lebih baik tidak langsung meng’quote’ atau mengkopi paste sebagian maupun keseluruhan tulisan orang lain. Walaupun kita menuliskan sumbernya, hal itu kemungkinan besar dinilai sebagai tindakan plagiasi, jadi lebih baik buat kesimpulan kalimat atau paragraf itu dengan kata-kata kita sendiri lalu tetap tuliskan sumbernya. 
  2. Penggunaan foto milik orang lain, sebaiknya mendapat izin dari pemiliknya dan mencantumkan sumber foto tersebut dengan jelas. Untuk penerbitan jurnal ataupun jenis publikasi lainnya (yang dipublikasi pokoknya), wawa bilang lebih baik tidak menggunakan foto orang lain sama sekali. 
  3. Lalu yang paling diingatkan oleh wawa adalah, jangan asal memposting tugas-tugas kita di internet. Jika kita membuat kesalahan dan kesalahan itu merugikan orang lain, maka dampak besarkan juga akan mengenai kita. 
  4. Pesan saya buat para blogger, peringatan plagiasi ini harusnya membuat kita makin kreatif mengisi blog kita dengan tulisan dan ide-ide kita sendiri, dan mengurangi kopi paste kopi paste tulisan orang lain walaupun tulisan itu sangat menarik dan dirasa sangat bermanfaat (saya mengaku pernah menjadi salah satu pelakunya –duluuu, saya minta maaf ;P) 
  5. Dan pesan terakhir wawa, bertaubatlah! 
Kira-kira begitu. Banyak manfaatnya setelah kegemparan isu ini. Saya jadi paham telak keamburadulan tulisan saya dan jadi mengerti bagaimana cara untuk memperbaikinya. Oia, tentang kakak kelas saya sampai saat ini saya belum tahu bagaimana kelanjutannya, terakhir, teman-temannya mengumpulkan angket tanda-tangan untuk mendukung beliau. Semoga bisa diperjuangkan.