PechaKucha Night Bandung #13
12th Nov. 2011,
19:00 - 23:30
Admission: Rp. 20.000,-
Rumah Seni Ropih
Jl. Braga 43 Bandung
Baru pertama kalinya aku ikut hadir di PechaKucha. Sebuah acara sharing dan kumpul2 anak2 muda kreatif, desainer, arsitek, seniman kota Bandung dan sekitarnya (#Jakarta). Menyaksikan 15 presentasi inspiratif, dari berbagai kelompok komunitas atau per orang, dalam 20 slide tiap slide 20 detik -begitu aturan main dari sononya.
Keren banget, dalam gelap malam, lesehan, dan di kelilingi koleksi lukisan Pak Ropih yang selalu menggunakan warna emas, dan para seniman Braga lainnya.
Di lantai bawah, ada galeri pameran karya2 Arsitek Indonesia yang ikut Indonesian Architects Week @ Tokyo 2011, Kongres 4 tahun sekali arsitek dunia yang tergabung dalam International Union of Architect (UIA) yang berlangsung di Tokyo, Japan pada 25 – 28 September 2011 lalu. Temanya "Design 2050" dengan pendekatan dari tiga perspektif yaitu: lingkungan, kehidupan dan survival. Pameran roadshow ini akan berlansung sampai 19 November.
 |
| suasana pechakucha di rumah seni ropih |
Perjalanan pulangnya pun salah satu yang paling berkesan.
Rangkaian presentasi PechaKucha berakhir jam setengah duabelas malam. Kami masih tetap berada di sekitaran Rumah Seni Ropih untuk beberapa waktu lamanya. Ngobrol, dengan beberapa teman yang lain, obrolan utama sebenarnya adalah menentukan tujuan selanjutnya. Lebih tepatnya menentukan tempat makan. Empat orang pulang lebih dulu karena mereka datang dengan menggunakan mobil. Sisanya bertujuh, dari sembilan orang yang berangkat bareng sebelumnya.
Nabil mencetuskan opsi pertama, McD, tapi seketika langsung ditolak mentah2, karena kami masih trauma eneg dengan menu wajib tiap hari selama kami di Hongkong kemarin. Opsi pilihan kedua adalah MadTari, kali ini aku yang langsung menolak, no more madtari, madtari bisa merusak citra keju yang mulia begitu mencoba menunya. Lalu opsi ke tiga adalah KFC, hanya dua orang yang setuju dari tujuh orang, satu orang menolak.
Pembicaraan ini berlanjut sambil jalan meninggalkan jalan Braga yang masih sangat ramai, mungkin baru mulai hidup malam minggu begini.
Kami sampai didepan balai kota, menunggu angkot yang ke arah dago. Pilihannya adalah angkot dago-stasion, tapi semenit kemudian, sepuluh menit kemudian, setahun kemudian, angkot yang kami tunggu ternyata sudah tidak lewat lagi. Kami pun naik angkon kalapa-ledeng yang lewat. Tidak sampai 500 meter kami sudah turun. Jalan kaki lagi dua blok menuju jalan dago.
Kupikir kami akan menuju ke KFC atau McD di BIP, ternyata temen-temen tetap jalan terus ke utara Dago. Jam sudah lewat tengah malam. Jalan Dago masih ramai. Di pinggir Pedestrian masih banyak sekumpulan anak muda yang nongkrong.
Begitu kami melewati sebuah kafe restoran masakan aceh yang masih sangat ramai, sepertinya cukup menarik, akhirnya kami memutuskan untuk makan di sini.
Jam setengah dua, baru beres makan. Sayangnya menunya sangat tidak bersahabat dengan lidah. Malam itu ada satu keputusan penting yang kami buat. Kafe restoran Aceh di jalan Dago ini tidak akan masuk dalam rekomendasi tempat makan di Bandung :) maaf ya.. ini hanya suara konsumen..
Jalan kaki pun kembali dilanjutkan setelah makan. Sambil sesekali menoleh kalau-kalau ada angkot Dago yang lewat. Tiba2 wulan yang sedari tadi mengeluh masuk angin dan sudah ga kuat melanjutkan 'perjalanan kaki', muntah2 dua kali di pinggir jalan. Dia memang masih belum sembuh benar dari sakit, tapi perjalanan tetap dilanjutkan.
Sampai di simpang lampu merah pertama di perempatan Dukomsel, terjadi sedikit dilema, apa akan melanjutkan perjalanan dengan taksi apa dengan angkot. Si nabil memilih jalan kaki ke kostnya karena sudah dekat. Sekarang tinggal kami berenam. Aku dan wulan memilih jalan kaki karena kost kami juga tinggal satu blok. Akhirnya semuanya ikut jalan. Jalan menuju balubur juga masih hidup, kehidupan malam yang baru dimulai.
Dipertigaan tamansari depan rektorat itb, kami sempatkan foto2 di tengah jalan. Sampai di tegur oleh bapak2 dari atas mobil, karena berfikir kami kurang kerjaan dan harus segera pulang hampir jam dua dini hari ini.
 |
| pic by: diki. sempat, di pertigaan tamansari rektorat itb |
Sebenarnya, yang paling di takuti selama perjalanan kami ini adalah jika bertemu dengan gank motor kota bandung yang terkenal kejam. Jadi tiap kali ada rombogan motor yang lewat, aku agak parno gimanaa gitu. Sebelumnya juga, di sisi seberang perempatan jalan dukomsel, beberapa anak melemparkan botol-botol kaca ke tengah jalan, yang pecah berantakan, entah apa maksudnya, bikin agak sedikit panik.
Aku dan wulan, berpisah, karena kami sudah sampai kost. Tinggal empat orang lagi yang masih melanjutkan perjalanan. Kali ini melintasi jalan tamansari yang sepi dengan cahaya lampu yang remang menuju siliwangi. Lalu satu orang lagi memisah di tamansari.
Perjalanan terakhir tinggal diki, arul dan ita.
Lalu, terjadilah sedikit kisah mistis di jalan sepi yang diselubungi pepohonan hutan itb dan kebon binatang, dan angin malam yang berhembus pelan2.
syuuuhhh.......
Tiba2 lampu jalan yang tenang, berkedap kedip genit.
Huaa.......
Dan kesaksian diki "si ita lari tunggang langgang dengan sepatu anti malingnya di taman sari gara2 lampu kedip2...KHAHAHAHAHAHA"
Pembelaan ita "Alaaah,kamu juga kan Dik..."
kata kay "^___^ kenapa tu lampu ga ditimpuk aja ta, pake "highheel super" bakalan kapok tuh nakut2in org"
Lalu hari ini pun berakhir dengan selamat pada jam setengah tiga dini hari di kost masing-masing..