Minggu, 20 November 2011

Sambil belajar merajut ;)

Malam minggu kali ini, aku nginap di Cimahi dalam rangka menghadiri walimatul ursy teh Patmah wati hari ahad pagi ini. Nginap di rumah Icha, bareng Maya.

Begitu masuk kamar Icha, tumpukan benang wool berbagai jenis dan beberapa pasang sumpit rajut tergeletak di atas meja belajarnya. Begitu menarik perhatian.
Jadilah malam minggu ini ku isi dengan belajar hal baru.
Merajut. ;D

Sangat kesulitan tapi menyenangkan. Mengautiskan diri.
Ini dia tahap belajarku.
Yang kita butuhkan adalah segulung benang wool, dan sepasang sumpit
Tahapan pertama, ukur seberapa panjang rajutan yang ingin kita buat dengan menarik benang yang pendek. Lalu buat simpul.
 
Ini hasil rajutanku semalaman ^,^

Maya yang jadi gurunya kali ini.
Dia mengajarkan dua teknik rajutan. Yang diatas ini adalah teknik 'knit'. Lalu teknik yang satu lagi adalah teknik 'pearl'. Jika dua teknik ini digabungkan, maka kita bisa membuat pola tekstur yang kita inginkan.

Kalau ingin belajar lebih lanjut, search Youtube, tutorial tentang merajut ada banyak. 
Kalo sempat, boleh dicoba ^____^

Minggu, 13 November 2011

Pecha Kucha Night #13 dan Jelajah Lewat Tengah Malam

PechaKucha Night Bandung #13

12th Nov. 2011, 19:00 - 23:30
Admission: Rp. 20.000,-
Rumah Seni Ropih
Jl. Braga 43 Bandung


Baru pertama kalinya aku ikut hadir di PechaKucha. Sebuah acara sharing dan kumpul2 anak2 muda kreatif, desainer, arsitek, seniman kota Bandung dan sekitarnya (#Jakarta). Menyaksikan 15 presentasi inspiratif, dari berbagai kelompok komunitas atau per orang, dalam 20 slide tiap slide 20 detik -begitu aturan main dari sononya.

Keren banget, dalam gelap malam, lesehan, dan di kelilingi koleksi lukisan Pak Ropih yang selalu menggunakan warna emas, dan para seniman Braga lainnya.
Di lantai bawah, ada galeri pameran karya2 Arsitek Indonesia yang ikut Indonesian Architects Week @ Tokyo 2011, Kongres 4 tahun sekali arsitek dunia yang tergabung dalam International Union of Architect (UIA) yang berlangsung di Tokyo, Japan pada 25 – 28 September 2011 lalu. Temanya "Design 2050" dengan pendekatan dari tiga perspektif yaitu: lingkungan, kehidupan dan survival. Pameran roadshow ini akan berlansung sampai 19 November.
suasana pechakucha di rumah seni ropih
Perjalanan pulangnya pun salah satu yang paling berkesan.
Rangkaian presentasi PechaKucha berakhir jam setengah duabelas malam. Kami masih tetap berada di sekitaran Rumah Seni Ropih untuk beberapa waktu lamanya. Ngobrol, dengan beberapa teman yang lain, obrolan utama sebenarnya adalah menentukan tujuan selanjutnya. Lebih tepatnya menentukan tempat makan. Empat orang pulang lebih dulu karena mereka datang dengan menggunakan mobil. Sisanya bertujuh, dari sembilan orang yang berangkat bareng sebelumnya.

Nabil mencetuskan opsi pertama, McD, tapi seketika langsung ditolak mentah2, karena kami masih trauma eneg dengan menu wajib tiap hari selama kami di Hongkong kemarin. Opsi pilihan kedua adalah MadTari, kali ini aku yang langsung menolak, no more madtari, madtari bisa merusak citra keju yang mulia begitu mencoba menunya. Lalu opsi ke tiga adalah KFC, hanya dua orang yang setuju dari tujuh orang, satu orang menolak.
Pembicaraan ini berlanjut sambil jalan meninggalkan jalan Braga yang masih sangat ramai, mungkin baru mulai hidup malam minggu begini.

Kami sampai didepan balai kota, menunggu angkot yang ke arah dago. Pilihannya adalah angkot dago-stasion, tapi semenit kemudian, sepuluh menit kemudian, setahun kemudian, angkot yang kami tunggu ternyata sudah tidak lewat lagi. Kami pun naik angkon kalapa-ledeng yang lewat. Tidak sampai 500 meter kami sudah turun. Jalan kaki lagi dua blok menuju jalan dago. 
Kupikir kami akan menuju ke KFC atau McD di BIP, ternyata temen-temen tetap jalan terus ke utara Dago. Jam sudah lewat tengah malam. Jalan Dago masih ramai. Di pinggir Pedestrian masih banyak sekumpulan anak muda yang nongkrong.

Begitu kami melewati sebuah kafe restoran masakan aceh yang masih sangat ramai, sepertinya cukup menarik, akhirnya kami memutuskan untuk makan di sini. 
Jam setengah dua, baru beres makan. Sayangnya menunya sangat tidak bersahabat dengan lidah. Malam itu ada satu keputusan penting yang kami buat. Kafe restoran Aceh di jalan Dago ini tidak akan masuk dalam rekomendasi tempat makan di Bandung :) maaf ya.. ini hanya suara konsumen..

Jalan kaki pun kembali dilanjutkan setelah makan. Sambil sesekali menoleh kalau-kalau ada angkot Dago yang lewat. Tiba2 wulan yang sedari tadi mengeluh masuk angin dan sudah ga kuat melanjutkan 'perjalanan kaki', muntah2 dua kali di pinggir jalan. Dia memang masih belum sembuh benar dari sakit, tapi perjalanan tetap dilanjutkan. 
Sampai di simpang lampu merah pertama di perempatan Dukomsel, terjadi sedikit dilema, apa akan melanjutkan perjalanan dengan taksi apa dengan angkot. Si nabil memilih jalan kaki ke kostnya karena sudah dekat. Sekarang tinggal kami berenam. Aku dan wulan memilih jalan kaki karena kost kami juga tinggal satu blok. Akhirnya semuanya ikut jalan. Jalan menuju balubur juga masih hidup, kehidupan malam yang baru dimulai.

Dipertigaan tamansari depan rektorat itb, kami sempatkan foto2 di tengah jalan. Sampai di tegur oleh bapak2 dari atas mobil, karena berfikir kami kurang kerjaan dan harus segera pulang hampir jam dua dini hari ini.
pic by: diki. sempat, di pertigaan tamansari rektorat itb
Sebenarnya, yang paling di takuti selama perjalanan kami ini adalah jika bertemu dengan gank motor kota bandung yang terkenal kejam. Jadi tiap kali ada rombogan motor yang lewat, aku agak parno gimanaa gitu. Sebelumnya juga, di sisi seberang perempatan jalan dukomsel, beberapa anak melemparkan botol-botol kaca ke tengah jalan, yang pecah berantakan, entah apa maksudnya, bikin agak sedikit panik.
Aku dan wulan, berpisah, karena kami sudah sampai kost. Tinggal empat orang lagi yang masih melanjutkan perjalanan. Kali ini melintasi jalan tamansari yang sepi dengan cahaya lampu yang remang menuju siliwangi. Lalu satu orang lagi memisah di tamansari.
Perjalanan terakhir tinggal diki, arul dan ita.

Lalu, terjadilah sedikit kisah mistis di jalan sepi yang diselubungi pepohonan hutan itb dan kebon binatang, dan angin malam yang berhembus pelan2.
syuuuhhh.......
Tiba2 lampu jalan yang tenang, berkedap kedip genit.
Huaa.......

Dan kesaksian diki "si ita lari tunggang langgang dengan sepatu anti malingnya di taman sari gara2 lampu kedip2...KHAHAHAHAHAHA"
Pembelaan ita "Alaaah,kamu juga kan Dik..."
kata kay "^___^ kenapa tu lampu ga ditimpuk aja ta, pake "highheel super" bakalan kapok tuh nakut2in org"

Lalu hari ini pun berakhir dengan selamat pada jam setengah tiga dini hari di kost masing-masing..

Selasa, 01 November 2011

Pertama kalinya menjejak di belahan bumi ALLAH yang lain --> Singapore-Shenzhen-Macau-Hongkong

Perjalanan kami dimulai sejak pukul tiga pagi hari selasa. Berangkat dari Bandung dengan menggunakan mobil travel sewaan yang memuat dua belas orang. Grasak grusuk dalam keheningan malam.

Sampai di Bandara Internasional Sukarno Hatta tepat pukul delapan pagi. Enam orang lainnya sudah menunggu disana.

Kamipun berangkat. Transit dua belas jam di Singapura, empat jam perjalanan menuju Hongkong, dua hari satu malam di Shenzhen, seharian di Macau, dan menghabiskan empat malam dua hari di Hongkong. Lalu berkesempatan lagi mampir di Singapura selama tiga jam. Sampai pulang kembali ke Bandung pada malam ke delapan, jam tiga pagi.

Ini pertama kalinya bagi saya melewati imigrasi keluar dari Negara Indonesia, pertama kali pasport saya mendapat cap dan visa, keluar masuk beberapa Negara.

Dan ini adalah sedikit catatan saya secara umum. Saya berangkat dengan tidak punya informasi sama sekali mengenai semua kota ini, saya menggunakan teori kedua pak BUL yang menyerap apa saja yang ditemui, tidak memiliki tujuan tempat tertentu yang ingin dilihat. Saya juga melewatkan kuliah pembekalan sebelum berangkat, kali ini bukan sengaja, tapi lupa, hehe..

Maka inilah yang saya temukan.

Singapura
18 Oktober 2011

The city
Seaside city. Itu kesan pertama kota ini begitu melihatnya dari udara. Dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit, dan kota yang tertata rapi.

Bandar udara Internasional Changi, juga menyediakan fasilitas moda transportasi interchanges, berupa stasiun kereta yang bisa mengantarkan penumpang langsung ke kota. Yang paling berkesan di kota ini adalah suasana ruang public di tepi lautnya. Jika sore hari tidak terasa panas karena dinaungi oleh bayang-bayang gedung, jika malam hari disuguhi oleh titik-titik cahaya lampu dari gedung-gedung disekitarnya. Pedestrian yang cukup lega untuk menikmati laut, spektator-spektator untuk duduk-duduk santai yang membuat lebih dekat dengan laut.
merlion park, explanade theater (pic by: adit, martha)
Citizens Life
Menggambarkan masyarakat kota Singapura adalah masyarakat kota yang sangat sibuk, dan beberapa mulai terkesan individualis. Pada jam-jam sibuk, mereka akan memenuhi bus kota dan MRT. Dengan langkah-langkah cepat melewati lorong-lorong stasiun. Dan perhatian mereka tertuju pada getjet tercanggih yang ada dalam genggaman.

Pada sore dan malam hari, ruang public pun akan dipenuhi oleh masyarakat dan wisatawan.

Negara kota Singapura memiliki masyarakat multi entis, melayu, cina, india, dan bule :D. Menggunakan bahasa melayu dan cina, dan bahasa inggris sebagai bahasa resmi.

Housing
Deretan kompleks apartemen low rise terlihat melalui jendela sepanjang perjalanan MRT dari bandara ke kota. Berdampingan dengan rapih, dan bersih. Tidak terlihat jemuran sedikitpun pada balkon-balkonnya, sehingga kesan pertama yang dirasakan adalah hampa. Terlihat sepi pada siang hari, hanya terlihat satu dua orang saja, terlalu tenang, rasanya tidak akan bisa tinggal disini. Tapi kesan itu seketika berubah setelah menggunjungi hongkong.


Shenzhen
19-20 Oktober 2011

The city
Kesan pertama begitu sampai di kota ini adalah, sebuah kota kabupaten, dikelilingi oleh hutan, bukit-bukit dan tanah lapang, namun dengan gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan lebar. Suasana kota yang ramai namun tidak padat. Dan terasa nyaman. Feels like home.

Hal yang paling menarik di kota Shenzhen adalah fasilitas yang sangat memperhatikan pejalan kaki. Seperti jalur pedestrian lebar 10 – 12 m dan nyaman dengan naungan pohon-pohon rindang, juga public space, berupa square, taman-taman, yang banyak dijumpai. Tempat-tempat berkumpul yang nyaman dan atraktif. Juga sign pada lantai pedestrian, stasiun dan tempat-tempat umum bagi penyandang cacat.

Juga transportasi massal yang nyaman, seperti metro yang melayani banyak jalur, dan Bus kota yang nyaman untuk masyarakat. Selain itu, stasiun dan shelter-shelternya sendiri dirancang dengan baik.


Citizens Life
Masyarakat kota Shenzhen terkesan sederhana, walaupun pada beberapa tempat dan waktu yang berbeda kita dapat melihat masyarakat yang sadar akan fashion, terutama pada saat menjelang sore sampai malam hari, dimana para pekerja kantor yang didominasi oleh orang-orang muda memenuhi pedestrian kota, ruang public, metro dan bis. Selain berjalan kaki, masyarakat kota Shenzhen menggunakan sepeda dan sepeda bermesin sebagai transportasi jarak dekat, dan kendaraan angkutan barang mereka. Jalurnya sama dengan jalur pedestrian. Tidak ada kendaraan motor disini. Dan tidak semua orang bisa berbahasa Inggris, bahkan bapak polisi yang banyak berjaga di ruang public.


Housing
Perumahan di kota Shenzhen semua dibangun secara vertical. Dibangun dengan cukup rapih dan manusiawi, medium rise, gedung yang berbeda-beda untuk tiap tingkat ekonomi masyarakat. Beberapa semarak dengan jemuran warna-warni di dalam balkon, yang menghidupkan suasana, tapi tetap terlihat wajar, tidak terkesan kumuh. Parkir kendaraan ditempatkan di lantai dasar /basement gedung. Beberapa di pinggir jalan. Beberapa bangunan apartemen juga menjadikan lantai dasarnya sebagai toko-toko tempat usaha. Beberapa bangunan menyediakan taman untuk tempat bermain anak-anak, dan sarana olahraga. Sangat dekat dengan akses kendaraan umum.

(pic by: iir, martha, videl) 


(pic by: videl, muty) 

Macau
21 Oktober 2011

The city
Sebelum menginjakkan kaki di Macau, yang terbayang adalah semarak kota Las Vegas yang sering muncul di film-film. Tapi daripada kesan glamour hiburan malam, kota Macau ternyata lebih terkesan anggun, seperti pulang ke rumah nenek. Selain deretan gedung-gedung tinggi, masih banyak bangunan-bangunan heritage, atau bangunan-bangunan tempat tinggal yang bergaya eropa. Suasana heritage tidak hanya pada bangunannya saja, namun pedestrian, jalan-jalan yang lebih banyak menggunakan elemen batu, taman-taman, ruang terbuka hijau, dan ruang public juga di tata dengan nuansa historis. Moda transportasi masyarakat di kota ini adalah bus yang sangat nyaman dan tarif yang cukup murah. Selain mobil pribadi, beberapa masyarakat juga tampak menggunakan skuter motor. Pada malam hari, baru nampak kesan ‘vegas’ karena beberapa bangunan mulai tampak semarak dengan lampu yang menyelubungi fasadenya.

Citizens Life
Pada sore hari taman-taman yang dekat dengan perumahan akan dipenuhi oleh penduduk kota. Bermain dengan anak-anak sambil memberi mereka makan malam, atau yang paling sering terlihat adalah membawa hewan peliharaan berjalan-jalan.

Housing
Dari yang terlihat, bangunan perumahan di kota Macau merupakan bangunan apartemen low rise. Hanya beberapa tingkat, dan dengan bangunan bergaya eropa pada beberapa daerah, dan model yang cukup sederhana pada beberapa daerah yang lain. Tapi semuanya memberikan kesan rapih dan nyaman untuk di tinggali.


(pic by: martha, riri) 

Hongkong
22-23 Oktober 2011

The city
Kota Hongkong, menyajikan pemandangan dan suasana yang berbeda pada tiap distriknya. Ketika tiba di Hongkong pada malam hari, di jalan Nathan road, disambut dengan semarak lampu-lampu papan reklame yang besar-besar dan panjang menutupi separuh badan jalan. Padat dan Ramai. Itulah kesan pertama pada kota ini.

Pada distrik yang lain, di seberang Hongkong daratan, atau Hongkong Island, central distrik menyuguhkan penandangan berbeda. Distrik ini adalah pusat perkantoran, dimana bangunan-bangunan pencakar langit mengambil tempat, hasil karya arsitek-arsitek terkenal dunia. Memberikan banyak taman dan square pada tiap blok, sehingga dilihat dari atas gedungnya pun, Hongkong masih terlihat hijau. Taman-taman ini pula yang memberikan kesan pada kota Hongkong, dari taman-taman ini kita bisa melihat dengan baik gedung-gedung indah, square ini pula yang menjadi titik temu dari gedung-gedung di sekitarnya, yang menyatukan. Tempat yang baik untuk menghirup udara segar sejenak dan bersosialisasi, merasakan kota Hongkong.

Transportasi massal di kota Hongkong adalah MTR, bus, juga trem. Jaringan Stasiun MTR sangat panjang, terhubung pada beberapa tempat keluar. Di dalamnya sendiri, terdapat banyak retail, yang memudahkan masyarakat Hongkong yang sibuk dapat memenuhi kebutuhannya sambil berjalan menuju tempat tujuan.

Citizens Life
Orang Hongkong selalu berjalan dengan langkah-langkah yang cepat. Mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Memadati lorong-lorong stasiun MTR, tidak hanya pada jam sibuk saja. Juga bus kota dua tingkat yang menjadi sarana transportasi utama masyarakat kota Hongkong. 

Pada sore dan malam hari, jalan-jalan kota juga dipenuhi oleh anak muda yang fashionista. Inspiratif, seperti melihat parade model-model baju terbaru di majalah remaja.

Housing
Sempit. Itu kesan pertama tinggal di Hongkong, pada sebuah guess house yang menempati salah satu lantai apartemen ditengah-tengah Nathan road yang hiruk pikuk. Sangat efisien. Kamar mandi dengan ukuran kira-kira 0.75 m x 1.25 m yang sangat lengkap dengan WC, washtafel dan shower, di dalam kamar yang juga sangat efisien, pas untuk sebuah tempat tidur yang sesuai dengan ukuran tubuh orang asia, meja kecil dan sedikit ruang untuk sirkulasi. Dari jalan, pemandangan kea rah apartemen sangat berantakan, dipenuhi dengan jemuran berwarna warni yang menjorok ke luar, kotak-kotak air conditioner juga fasade yang tidak terawat. Suasana seperti ini banyak terlihat di bagian lain kota Hongkong.

Namun, beberapa distrik baru, membangun apartemen baru yang cukup terlihat rapih dan cukup nyaman dari luar. Perumahan vertical yang ideal, ruang public di dekatnya.


(pic by: iir) 


(pic by: maria, iir, adit)